Monday, 17 August 2015

ANALISIS DINAMIKA KELOMPOK

Keadaan yang tidak stabil dalam kelompok sosial akan menyebabkan konflik di dalamnya dan mengacaukan dinamika kelompok. Hal ini menjadi ancaman bagi keberhasilan pencapaian tujuan sebuah asosiasi dan perlu segera dilakukan analisis  yang dapat menjadi dasar dalam penyelesaian masalah. Analisis terhadap dinamika kelompok sosial akan menunjukkan pergerakan yang terjadi di dalamnya melalui analisis perilaku kelompok dan anggotanya dalam mencapai tujuannya.

Mardikanto (1996) menyebutkan bahwa analisis dinamika kelompok dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan psikososial dan sosiologi.
Pendekatan  psikososial  adalah analisis  dinamika kelompok  yang dilakukan  terhadap  segala  sesuatu  yang  akan berpengaruh  terhadap  perilaku anggota-anggota kelompok dalam melaksanakan kegiatan demi tercapainya tujuan kelompok,  sedangkan pendekatan  sosiologis  adalah  analisis terhadap  proses sistem sosial kelompok.


Melalui pendekatan psikososial unsur-unsur yang mempengaruhi  dinamika kelompok adalah (1)  tujuan kelompok;  (2)  struktur  kelompok;  (3)  fungsi tugas;  (4)  pembinaan  dan pengembangan  kelompok;  (5) kekompakan  kelompok; (6) suasana kelompok; (7) tekanan pada kelompok;  (8) keefektifan kelompok dan (9) agenda terselubung (Slamet, 2002). Unsur-unsur dinamika kelompok tersebut dapat dijabarkan sebagai  berikut:  

1.      Tujuan kelompok
Menurut Purwanto dan Huraerah (2006) adalah  hasil akhir yang diinginkan oleh semua anggota kelompok, sehingga harus jelas, karena akan sangat berpengaruh terhadap perilaku atau tindakan-tindakan anggota kelompok.  Menganalisis seberapa jauh tujuan kelompok benar-benar telah dipahami dan dihayati oleh setiap anggota kelompok yang bersangkutan. Pemahaman dan penghayatan anggota terhadap tujuan kelompok  dapat membuat  anggota dapat  berbuat  sesuatu  sesuai  dengan kebutuhan  kelompok. Tujuan kelompok harus  mendukung  tercapainya  tujuan  anggota Kelompok. Apabila  tujuan  kelompok  mendukung  tujuan  anggotanya  maka kelompok menjadi kuat dinamikanya (Cartwright dan Zander, 1968).

Tujuan  kelompok  ini  akan  menjadi  suatu  motivasi  bagi  anggota  untuk melakukan  kegiatan  kelompok sehingga  pencapaian  tujuan  tersebut  akan  lebih efektif.    Menurut  Slamet  (2002)  hubungan  antara tujuan  kelompok  dan  tujuan anggota  mempunyai  lima  kemungkinan  bentuk  yaitu  :  (1)  sepenuhnya bertentangan;  (2)  sebagian  bertentangan;  (3)  netral;  (4)  searah  dan  (5)  identik. Tujuan  kelompok yang  baik  harus  terkait/sama  dengan  tujuan  anggota  sehingga hasilnya dapat memberi manfaat kepada anggota.

2.      Struktur Kelompok
Struktur kelompok adalah suatu bentuk hubungan antara individu-individu di dalam  kelompok yang  disesuaikan  dengan  posisi  dan  peranan  masing-masing individu  (Soedarsono, 2005).  Struktur kelompok juga merupakan suatu pola yang teratur tentang bentuk tata hubungan antara individu-individu dalam kelompok yang sekaligus menggambarkan kedudukan dan peran masing-masing untuk mencapai tujuan kelompok. Ketidakjelasan mengenai struktur kelompok akan berakibat terhadap ketidakjelasan kedudukan, peran, hak, kewajiban dan kekuasaan masing-masing anggota, sehingga pelaksanaan kegiatan tidak mungkin berjalan efektif dan efisien dalam mencapai tujuan. (Purwanto dan Huraerah 2006).
Sedangkan  Gerungan (1972)  menyatakan,  struktur kelompok  adalah  susunan  hirarkis mengenai  hubungan-hubungan berdasarkan  peran  dan  status  antara  masing-masing anggota  kelompok  dalam mencapai tujuan. Cartwright dan Zander (1968),  menyatakan bahwa struktur kelompok adalah bentuk  hubungan  antara  individu  di  dalam  kelompok, yang disesuaikan  dengan posisi  dan  peranan  masing-masing  individu.   Struktur  kelompok dapat  disusun secara  formal,  tetapi  dapat  pula  secara  informal.   

Struktur  kelompok dapat juga  diartikan  sebagai  upaya  kelompok  mengatur  dirinya sendiri dalam  mencapai tujuan yang diinginkan.  Aspek-aspek yang paling penting menyangkut struktur kelompok adalah (1)  struktur kekuasaan  atau  pengambilan  keputusan;  (2)  struktur tugas  atau  pembagian  kerja; (3)  struktur  komunikasi  atau  bagaimana  aliran-aliran komunikasi  yang  terjadi dalam  kelompok  dan  (4)  wahana  bagi  kelompok  untuk berinteraksi.    Yang terpenting  dalam  struktur  kelompok  adalah  terciptanya  interaksi  yang intensif  di antara anggota kelompok (Slamet, 1978).

Pada  kelompok  formal pembagian  tugas,  norma-norma  dan  mekanisme  kerja disusun  dengan  jelas  dan tertulis,  sehingga  semua  anggota  mengetahui.    Pada kelompok yang  strukturnya tidak  ditetapkan  secara  formal  dan  tertulis,  tetap  memiliki  dinamika sepanjang masing-masing anggota menyadari dan melaksanakan tugas dengan baik.

3.      Fungsi tugas
Fungsi tugas adalah segala sesuatu yang harus dilakukan oleh kelompok agar kelompok dapat menjalankan fungsinya sehingga tujuan kelompok dapat tercapai (Tuyuwale, 1990).   Menurut  Soedijanto  (1981), fungsi tugas  adalah  segala  hal yang harus dilakukan kelompok yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Sebagai seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok sesuai dengan kedudukannya dalam struktur kelompok, maka setiap orang harus memahami betul tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk tujuan kelompok.

Menurut Slamet (2002) maksud dari fungsi tugas adalah untuk memfasilitasi dan mengkoordinasi usaha-usaha  kelompok  yang  menyangkut  masalah-masalah bersama dan dalam rangka memecahkan masalah-masalah tersebut.  Fungsi tugas itu  meliputi  :  (1)  fungsi memberi  informasi;  (2)  fungsi  menyelenggarakan koordinasi;  (3)  fungsi  menghasilkan inisiatif;  (4)  fungsi  mengajak  untuk berpartisipasi  dan  (5)  fungsi menjelaskan  sesuatu kepada  kelompok.   

Untuk mengkaji  fungsi  tugas  ini  antara  lain:  (1)  adanya  kepuasan  di  kalangan  anggota karena tercapainya  tujuan-tujuan  kelompok  maupun  tujuan  pribadi;  (2)  para anggota  selalu mendapatkan informasi  baru  sehingga  mereka  selalu  dapat meningkatkan  berbagai  tujuan yang  ingin  dicapai  dan dapat  meningkatkan  cara-cara  untuk  mencapainya  tujuan  tersebut; (3)  kesimpangsiuran  dapat  di cegah karena  ada  koordinasi  yang  baik;  (4)  para  anggota selalu  bergairah  untuk berpartisipasi karena selalu ada motivasi; (5) komunikasi di dalam kelompok baik dan  lancar;  (6)  kelompok  selalu  memberikan penjelasan  kepada anggotanya  bila mereka menghadapi situasi yang membingungkan.

4.      Pembinaan dan Pemeliharaan Kelompok,
Pembinaan  dan  pengembangan  kelompok  adalah  segala  macam  usaha  yang dilakukan kelompok dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan dirinya (Soedarsono,  2005). Unsur ini merupakan upaya kelompok untuk tetap memelihara dan mengembangkan kehidupan kelompok atau upaya kelompok untuk berusaha memelihara tata kerja dalam kelompok, mengatur, memperkuat dan mengekalkan kelompok.

Lebih  lanjut  Tuyuwale  (1990)  mengatakan  bahwa pembinaan dan pengembangan kelompok juga berarti usaha-usaha untuk menjaga kehidupan kelompok. Usaha-usaha  untuk mempertahankan  kehidupan kelompok  dapat  dilakukan dengan  adanya  (1)  partisipasi  dari semua  anggota  dalam  kegiatan-kegiatan kelompok;  (2) fasilitas  untuk  melakukan kegiatan-kegiatan  kelompok; (3) kegiatan-kegiatan  yang memungkinkan  setiap  anggota  untuk berpartisipasi;  (4)  pengawasan  (kontrol)  terhadap  norma  yang berlaku  dalam  kelompok; (5) sosialisasi,  yaitu  proses  pendidikan  bagi  anggota  baru  agar  mereka  bisa menyesuaikan  diri  dengan  kehidupan  kelompok;  dan  (6) usaha-usaha  untuk mendapatkan anggota baru demi kelangsungan hidup kelompok.

5.      Kekompakkan kelompok
Kekompakan kelompok dapat diartikan sebagai rasa keterikatan anggota kelompok terhadap kelompoknya. Adanya kesamaan tindakan, kerjasama, kesadaran menjadi anggota, persamaan nasib, homogenitas perilaku, kesepakatan terhadap tujuan kelompok dan pengakuan terhadap kepemimpinan kelompok merupakan wujud dari rasa keterikatan tersebut.

Slamet (2002) menyatakan  bahwa  kekompakan  kelompok  adalah  perasaan ketertarikan anggota terhadap kelompok atau rasa memiliki kelompok. Kelompok yang anggota-anggotanya kompak akan  meningkatkan  gairah  bekerja  sehingga para anggota lebih aktif dan termotivasi untuk tetap berinteraksi satu sama lain. Kekompakan  kelompok  dipengaruhi oleh  besarnya komitmen para anggota. Komitmen  ini dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor seperti:  (1)  kepemimpinan kelompok;  (2)  keanggotaan  kelompok; (3)  homogenitas kelompok;  (4)  tujuan kelompok; (5) keterpaduan atau integrasi; (6) kerjasama atau kegiatan kooperatif dan (7) besarnya kelompok (Soedijanto, 1981).


6.      Suasana kelompok
Suasana kelompok meliputi suasana hati atau irama atau perasaan yang  terdapat  didalam kelompok, di mana keadaan  fisik  dimana kelompok  itu  berada  sangat  penting  dalam menumbuhkan  suasana kelompok., yaitu lingkungan fisik dan nonfisik (emosional) yang akan mempengaruhi perasaan setiap anggota kelompok terhadap kelompoknya. Seperti dinyatakan Beal,  Bohlen  dan  Raudabaugh  dalam  Tuyuwale (1990) suasana tersebut dapat berupa keramahtamahan, kesetiakawanan, kebebasan bertindak dan suasana fisik seperti kerapihan, keteraturan dan sebagainya.
Slamet  (1978) menyebutkan bahwa  suasana  kelompok  menyangkut keadaan  moral,  sikap, dan perasaan-perasaan  yang  umum  terdapat  dalam kelompok.  Indikatornya suasana kelompok ini dapat dilihat  pada  sikap  anggota,  mereka bersemangat  atau  sebaliknya apatis  terhadap  kegiatan  dan kehidupan  kelompok.  Kelompok menjadi semakin dinamis jika anggota kelompok semakin bersemangat dalam  kegiatan  dan  kehidupan  kelompok.   Suasana  kelompok  dipengaruhi  oleh berbagai  hal di antaranya  adalah  hubungan  antara para  anggota  kelompok, kebebasan berpartisipasi dan lingkungan fisik.

7.      Tekanan kelompok
Tekanan  pada  kelompok  dapat bersumber dari dalam maupun dari luar kelompok dan dapat menimbulkan ketegangan  pada  kelompok. Menumbuhkan tekanan pada  kelompok  harus cermat  dan  tepat, sehingga dapat menumbuhkan  kedinamisan kelompok untuk menimbulkan dorongan  ataupun motivasi  dalam mencapai  tujuan  kelompok.  Tekanan atau ketegangan dalam kelompok yang menyebabkan kelompok tersebut berusaha keras untuk mencapai tujuan kelompok. Fungsi  tekanan  pada  kelompok (group pressure)  adalah  membantu kelompok  mencapai  tujuan,  mempertahankan dirinya  sebagai  kelompok, membantu anggota  kelompok  memperkuat pendapatnya  serta  memantapkan  hubungan  dengan lingkungan  sosialnya.
           
Tekanan yang  berasal  dari  luar  dapat  muncul  sendiri  atau  dicari  dalam  bentuk tantangan untuk peningkatan prestasi atau kritik dari luar kelompok. Cartwright  dan  Zander  (1968), menyatakan  bahwa kelompok  dapat memberikan  tekanan  kepada  para  anggotanya melalui  nilai-nilai  tertentu  yang mengikat  perilaku  anggota  dalam  kehidupan  berkelompok. Semakin  dirasakan sistem  penghargaan ataupun  hukuman  karena  permintaan  atau pelanggaran terhadap  nilai-nilai  tersebut,  akan  semakin dirasakan  tekanan  pada kelompok. 

8.      Keefektifan kelompok
Efektifitas kelompok adalah keberhasilan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan  cepat  dan  berhasil baik  serta  memuaskan  bagi  setiap  anggota  kelompok dalam rangka mencapai tujuan berikutnya (Soedarsono, 2005).  Keberhasilan kelompok untuk mencapai tujuannya yang dapat dilihat pada tercapainya kedaaan atau perubahan yang memuaskan anggotanya.Efektifitas kelompok mempunyai pengaruh timbal balik dengan kedinamisan kelompok.  Kelompok  yang  efektif  mempunyai  tingkat dinamika  yang  tinggi, sebaliknya  kelompok  yang  dinamis  akan  efektif  mencapai  tujuan-tujuannya 

Efektivitas juga dapat dilihat dari segi produktifitas, moral dan kepuasan anggota. Tercapainya  tujuan kelompok  dapat  digunakan  sebagai  ukuran  produktifitas kelompok;  semangat  dan  sikap  anggota dipakai  sebagai  ukuran  moral;  dan keberhasilan anggota mencapai tujuan pribadi digunakan sebagai ukuran kepuasan anggota.    Semakin berhasil  kelompok  mencapai  tujuannya, semakin  bangga anggota berasosiasi dengan kelompok itu dan semakin puas anggota karena tujuan pribadinya  tercapai.   

9.      Agenda Terselubung
Mardikanto  (1993),  menyatakan  bahwa agenda atau maksud  tersembunyi  adalah emosional berupa perasaan, konflik, motif, harapan, aspirasi dan pandangan yang tidak  terungkap  yang  dimiliki  oleh  anggota kelompok. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh kelompok yang diketahui oleh semua angotanya, tetapi tidak dinyatakan secara tertulis. Agenda terselubung merupakan perasaan yang terpendam, baik di dalam diri anggota  maupun  di  dalam  kelompok. Agenda terselubung  juga  bisa  berupa keinginan-keinginan  yang ingin  dicapai  oleh  kelompok,  tetapi  tidak  dinyatakan secara formal (tertulis).   Terpenuhinya  agenda terselubung anggota akan mendorong semakin aktifnya anggota kelompok dalam melaksanakan  tugas  dan kegiatan  kelompok  yang  akan  mendorong  semakin dinamisnya suatu kelompok.


PENGETAHUAN TAMBAHAN






silahkan ”Kunjungi

No comments:
Write komentar