Tuesday, 19 May 2015

Hati yang Hidup

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan perbuatan kalian” (HR Muslim).
Hadits ini begitu berkesan di hati para sahabat dan generasi setelahnya, sehingga mereka senantiasa menjaga hati, agar tidak terkotori dengan cara menghindari perbuatan dosa. Mereka juga selalu membersihkan hati dengan cara bertaubat manakala sebuah dosa terlanjur meninggalkan noktah hitam di hatinya.

Generasi pertama Islam, yaitu para sahabat yang hidup di masa Rasulullah Saw, memiliki hati yang hidup. Hati mereka dipenuhi keimanan yang selalu memancarkan cahaya kesegaran jiwa dan raga, sehingga mendorong mereka untuk selama melakukan ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Sampai-sampai penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati) tak mampu mengotori hati mereka. Meski di antara mereka ada yang diuji dengan gelimang harta, seperti ‘Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf, akan tetapi hati mereka tak pernah terpengaruh dengan gemerlap dunia. Hati mereka terikat kuat pada Allah Swt dan Rasul-Nya.
Orang-orang yang memiliki hati yang hidup sangat sensitif dengan perbuatan dosa. Bahkan mereka sering mengaitkan musibah yang menimpa dirinya dengan dosa yang pernah dilakukannya. Ubaidillah bin As-Suri mengisahkan bahwa Al-Qudwah bin Sirin (seorang tabi’in) berkata, “Aku tahu dosa apa yang membuatku dililit hutang. Empat puluh tahun lalu aku pernah berkata kepada seseorang, ‘Hai orang yang bangkrut.’” Ibnu al-Jauzi menceritakan bahwa seorang salafush shalih pernah memaki dirinya, lalu dia menempelkan pipinya ke tanah sambil berkata, “Ya Allah, ampuni dosaku. Karena dosaku, Engkau membuat orang itu memaki diriku”. Kita meyakini bahwa tak ada orang yang mampu mengingat dosa yang pernah dilakukan empat puluh tahun yang lalu, kecuali orang tersebut sedikit berbuat dosa, sehingga dia mampu menghitungnya.
Hati yang hidup akan menjadi bekal manusia di Hari Kebangkitan, ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Wallahu a’lam bish shawab.
Oleh: Syamsu Hilal

No comments:
Write komentar