Sunday, 17 July 2011

FAKIR BERFIKIR


Bagaimana dapat aku lupakan pandangan sepasang mata itu. Raut dari sepasang mata yang kuyu, lesu dan tersembunyi seribu kepahitan dan penderitaan yang bertahun ditanggung. Kerut-kerut dari wajah tua lelaki itu tidak beriak sedikitpun tatkala kereta-kereta pantas berlari mengejar arus kota yang padat dan sesak itu. Debu yang berterbangan hinggap ke tubuh kurus itu yang entah makan entahkan tidak. Di satu sudut, terkulai anak-anak kecil yang tidak berdosa.
Menangis hatiku.
Luluh.
Itulah pandangan-pandangan biasa yang kulewati hampir dua minggu aku ke sana. Sehingga hari-hari terakhir, aku jatuh sakit. Ku akui aku seorang yang terlalu pendiam dan selalu betah memendam apa yang ku bebani sendirian, namun kali ini hatiku seakan tidak dapat menanggung kesedihan.

Duhai Tuhan, betapa agung dan halusnya segala rahsia-rahsia penciptaan dan perjalanan tali-tali takdir-Mu. Bukakanlah pintu-Mu, jernihkan mata hati kami agar dapat kami membaca akan Kelembutan-Mu.

Tuhan kami Yang Maha Pengasih,
Engkau bukan hanya pengasih,
tapi kami tahu Engkau juga sangat mudah
merasa kasihan kepada kami
yang kurang mampu tapi tetap berusaha,
yang tertindas tapi tetap berlaku adil,
yang terperdaya tapi tetap berlaku jujur,
dan yang hampir putus harapan
tapi tetap memelihara iman.
Tuhan Yang Maha Sejahtera,
Selamatkanlah kami, damaikanlah hati kami,
dan sejahterakanlah hidup kami.
Amin
———————————-

Apabila semua ini mudah, maka yang malas dan tidak jujur pun akan berhasil. Sesungguhnya, kesulitan adalah ujian kesungguhan bagi yang ingin memperbaiki diri dan kehidupannya. Bersabarlah. Kesulitan kita selalu lebih kecil daripada kemampuan yang ada. Tetaplah setia kepada kebaikan asli jiwamu, fokus mensyukuri dan menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki…


sumber: Mutiata hati

No comments:
Write komentar