Thursday, 26 June 2014

Hatinurani


Hatinurani adalah salah satu peralatan rohani manusia yang berfungsi sebagai pedoman manakala akal, budi, dan naluri tidak dapat memutuskan dan manusia berada dalam kebimbangan.
Bayangkan situasi ini: Anda petugas PRO (public relations officer) dari sebuah perusahaan farmasi peneliti AIDS, penyakit mematikan perusak dayatahan tubuh. Dalam melakukan penenitian, perusahaan Anda mendapat dana dari Pemerintah. Suatu hari, Anda menemukan dokumen yang menyatakan bahwa sejak lima bulan lalu sebetulnya sudah ditemukan obat penyembuh AIDS. 

Namun, perusahaan tidak mengumumkan hal itu karena akan menghentikan dana dari pihak Pemerintah sehingga kelangsungan perusahaan terancam. Hal ini membuat pimpinan perusahaan menunda pengumuman penemuan itu. Dan, pimpinan itu adalah ayah angkat Anda yang membantu Anda dari keterpurukan di masa kecil dulu.
Apakah yang akan Anda lakukan? Menghubungi pemerintah? Membocorkan dokumen ke media? Atau justeru diam-diam membakar dokumen itu demi melindungi ayah angkat Anda dan demi kelangsungan hidup perusahaan?
*
Hatinurani akan “memuja” Anda manakala tindak komunikasi yang Anda lakukan adalah mendukungnya. Sebaliknya, ia akan “menghujat” Anda manakala bertentangan dengannya.
Namun, hakikatnya hatinurani adalah anggukan universal: menyatakan bahwa pelanggaran terhadapnya adalah pelanggaran harkat martabat manusia pemiliknya. Ia berlaku di mana pun, kapan pun, bagi siapa pun; tanpa mengenal ras, golongan, atau agama. Akan tetapi, dan ini menariknya, ia bersifat paradoksial, bertentangan: di satu sisi ia universal, di sisi lain ia personal.
*
Hatinurani bersifat personal, maksudnya ia selalu berkaitan erat dengan individu bersangkutan. Norma-norma yang Anda anut dan terima dalam kehidupan sehari-hari seolah melekat pada pribadi Anda; dan tampak pada ucapan-ucapan hatinurani Anda.
Tidak ada dua manusia yang sama persis, tidak ada pula dua hati nurani yang persis sama. Hatinurani diwarnai oleh kepribadian Anda.  hatinurani berkembang seiring usia Anda, pendidikan, dan pengalaman Anda.
Hatinurani Anda ketika paruh baya berbeda dengan ketika Anda remaja. Hatinurani hanya bicara atas nama manusia pemiliknya, hanya memberi penilaian tentang perbuatan manusianya sendiri.
Hatinurani berarti hati yang diterangi (nur=cahaya). Dalam pengalaman kita mengenai  hati nurani, seolah ada cahaya menerangi hati kita. Karenanya, orang beragama seringkali mengatakan, hatinurani adalah “suara Tuhan”. Tuhan berbicara kepada kita melalui hatinurani (Bertens, 2002:56-58).
Maka, di titik ini, saya memaknai hatinurani yang jauh lebih luas daripada superego Freud, bukan semata internalisasi nilai yang ditanamkan sejak kecil. Misalkan, adalah seorang anak yang sejak kecil dibesarkan di kalangan penjahat, setelah dewasa bisa saja dia mendapat hidayah dan meninggalkan dunia kejahatan yang melingkupinya menjadi pemuka agama.
Atau, sebaliknya, seorang anak yang diajarkan dan dibesarkan kalangan agamawan, bisa saja di masa dewasa menjadi manusia bejat yang paling bejat manakala hatinuraninya tertutup. Jadi, hatinurani bukan semata internalisasi nilai yang ditanamkan sejak kecil, melainkan ada sesuatu yang “membuat manusia terhubung dengan sang Penciptanya.”
Manakala akal terkait dengan kecerdasan intelektual (IQ), budi dengan kecerdasan emosional (EQ), maka hatinurani adalah kecerdasan spiritual, SQ (Zohar, 2000).
*
Berdasarkan pembahasan sampai di sini, bisa kita simpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki hatinurani, akal, budi, dan seperangkat naluri.  Keseluruhan perangkat ini kita sebut peralatan rohani.
Perlatan rohani bekerja sepanjang hidup manusia pemilikinya, secara simultan, bersama-sama. Hanya saja di satu masa, salah satu bisa saja lebih menonjol daripada yang lainnya. Suatu saat sangat rasional, di lain saat menjadi emosional.
Tapi, begitulah manusia.
Dan manakala manusia secara konsisten terlalu mengandalkan nalurinya, utamanya naluri-naluri negatif, disamakanlah  dengan hewan. Manusia yang cenderung kerja budinya lebih menonjol  kita sebut budayawan; yang lebih kuat akalnya dipanggil  ilmuwan; dan yang lebih pada hatinuranya menjadi rohaniawan.
*
Ketika peralatan rohani manusia bekerja, tentulah menghasilkan sesuatu. Hasilnya ini mari kita  sebut sebagai hasil kerja peralatan rohani, yaitu berturut-turut adalah falsafah hidup, konsepsi kebahagiaan, dan motif komunikasi. Ketika motif komunikasi timbul,  manusia terdorong untuk menyampaikan pesannya.
Untuk menjawab pertanyaan “mengapa manusia menyampaikan pesannya kepada manusia lain?’  mari mulai membahas falsafah hidup.


 Dani Vardiansyah

No comments:
Write komentar