Tuesday, 17 July 2012

MEMPERBAIKI PRODUKTIFITAS KAKAO

Pendahuluan
Produktifitas tanaman kakao petani di Lampung masih rendah sekitar 900 kg/ha/tahun. Jauh dari produktifitas potensial yang seharusnya dapat dicapai yakni sebesar 2 – 3 ton/ha/tahun. Selain itu kualitas kakao kita juga rendah yang mengakibatkan harga kakao dari Indonesia dalam perdagangan dunia dinilai rendah, yang selanjutnya berdampak negatif terhadap harga kakao di tingkat petani.

Produktifitas dan mutu kakao tersebut dapat diperbaiki melalui penerapan teknologi. Salah satu diantaranya yaitu teknologi peremajaan tanaman dengan teknik sambung samping (side grafting) Melalui metode ini kita dapat memilih pohon induk yang berproduksi tinggi dengan kualitas baik yang diambil sebagai entris untuk disambung pada tanaman yang kurang baik, sehingga tanaman tersebut menjadi baik.

Teknik sambung samping merupakan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan menggabungkan bagian dari satu tanaman ke tanaman lain yang sejenis (se family) sehingga tumbuh menjadi satu tanaman dan mempunyai sifat yang sama dengan induknya (entrisnya). Hasil penelitian pada tanaman kakao, sambung samping dapat berproduksi pada umur 9 – 12 bulan sesudah perlakuan. Rata-rata hasil yang dapat diperoleh dari sambungan yang sudah produktif sekitar 1,5 ton biji kering.
Sambung samping sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, agar tunas yang tumbuh dari sambungan dapat tumbuh dengan cepat.
Keuntungan Sambung Samping
  1. lebih mudah pelaksanaannya, sehingga areal pertanaman kakao dapat di rehabilitasi dalam waktu singkat.
  2. Lebih mudah, dan tanaman kakao lebih cepat berproduksi.
  3. Sementara batang atas belum berproduksi, hasil buah dari batang bawah masih dapat dipertahankan.
  4. Batang bawah dapat berfungsi sebagai penaung sementara bagi batang atas yang sedang tumbuh.
Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan 1) pisau okulasi yang tajam agar potongan rapih dan mudah dilakukan idealnya memiliki satu sisi tajam saja, sehingga dapat digunakan oleh tangan kanan atau kiri. Pisau harus dalam kondisi bersih untuk menghindari penyakit yang mungkin melekat pada pisau tersebut, (2) Gunting pangkas untuk memotong entris agar lapisan kambium tidak rusak (3) Tali rafia digunakan untuk mengikat entris yang telah diletakkan pada tapak pohon hingga benar-benar kuat dan tumbuh pada batang utama (4) Plastik transparan yang spesialis digunakan untuk menutup sambungan entris agar terhindar dari gangguan hujan, angin, binatang dan serangga. Plastik berguna juga untuk menjaga kelembaban dan suhu yang stabil. Ukuran plastik berkisar 18 x 28 cm dengan tebal 0,01 mm (plastik Malaysia).

Persiapan

Batang bawah harus dalam kondisi sehat dan prima, sehingga kambium mudah dibuka setelah selesai digores (torehan). Apabila tanaman tidak dalam kondisi baik, maka perlu dilakukan pemupukan, pemangkasan dan pengendalian hama/penyakit agar tanaman sehat sebelum sambung samping. Pemupukan sebaiknya dilakukan satu bulan sebelum sambung samping dilakukan agar tanaman sehat dan tersedia cukup kambium pada batang dengan dosis 150 – 200 gr/pohon.
Pilih pohon terbaik yang berproduksi dan berkualitas tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit serta beradaptasi terhadap lingkungan. Cabang yang tumbuh horizontal (plagiotrop) ideal untuk dipilih atau digunakan untuk sambung samping (entris). Umur cabang diperkirakan 3 bulan dengan warna kulit cabang coklat kehijauan kira-kira berdiameter 0,75 sampai 1,5 cm. Buang daunnya dengan menggunakan gunting pangkas dan potong menjadi beberapa bagian dengan panjang masing-masing 12 cm dan memiliki 2 – 3 mata tunas.
Apabila entris diambil/dibawa dari tempat yang jauh (2 – 4 hari) perjalanan maka perlakuan khusus diperlukan agar tetap segara antara lain: (1) Potong cabang plagiotrop dengan panjang antara 30 – 40 cm, buang daunnya dengan gunting pangkas atau pisau okulasi yang tajam dan bersih; (2) Bungkus tiap potongan dengan pelepah pisang atau kertas koran agar tidak saling bersentuhan, letakkan secara hati-hati dalam kotak (kardus), dan hindari dari tumpukan benda lain agar mata tunas tidak rusak; (3) Percikkan air secukupnya pada kertas koran agar tetap lembab; (4) Perlakuan ini dapat menjaga kesegaran entris hingga 4 hari.
Teknik Sambung Samping dan Pemeliharaannya
Pilih bagian yang cocok pada pohon dengan tinggi 45 – 75 cm dari pangkal pohon untuk posisi sambung samping (tempat entris). Buatlah dua irisan (torehan) dari atas batang menyerupai kaki segitiga sama kaki atau huruf V terbalik dengan panjang kaki (sisi) 7 – 10 cm dengan lebar 2 – 4 cm. Pastikan kedua sisi irisan mengenai lapisan kambium pada kulit kayu yang dinamai “tapak”.
Buatlah tempat meletakkan entris dengan cara menarik ujung bagian atas torehan tadi dengan pisau okulasi secara hati-hati, perlahan dan rapi agar lapisan kambium terlihat, lalu potong ujung segitiga sama kaki 3-5 cm.
Sayat ujung entris pada satu sisi 3 –4,5 cm dan sisi belakangnya 1 – 2 cm, kemudian masukkan bagian sisi yang disayat panjang ke dalam goresan segitiga (tapak) menghadap lapisan kambium dengan sayatan menempel tepat pada “tapak" ikat rapat goresan dengan tali rafia.
Tutup sambungan dengan plastik transparan spesialis (plastik Malaysia) dengan mengikat bagian bawah goresan terlebih dahulu dengan tali rafia, lalu diteruskan melewati entris, kemudian kita ikat bagian atas dengan baik, agar air hujan tidak mudah masuk. Pastikan plastik tidak menekan entris, agar tidak renggang terhadap kambium. Ulangi langkah serupa untuk sambungan kedua dengan jarak 30 cm pada sisi yang berlawanan.
Entres yang telah disambung, setelah 3 – 4 minggu penyambungan entres tampak segar, maka dapat dikatakan sambungan berhasil, sebaliknya apabila entris kering atau busuk, maka sambungan dinyatakan gagal.
Jika tunas entres tumbuhnya mencapai 2 – 3 cm, tutup entres dibuka secara bertahap, yaitu pada kerudung bagian atas kantong plastik disobek. Dua bulan kemudian setelah penyambungan entres sudah melekat erat dengan batang bawah, maka tali pengikat baru dapat dilepas.

Pemeliharaan sambungan

Pemeliharaan sambungan umur 1 – 12 bulan yang perlu dilakukan adalah  Buka tutup plastik bagian atas setelah 25 – 28 hari sesudah penyambungan, agar tunas baru dan entris dapat tumbuh dengan baik;
  1. Biarkan ikatan bawah tunas entris 14 – 28 hari kemudian, hingga sambungan cukup kuat menempel pada pohon utama (batang bawah);
  2. Kemudian bukalah ikatan secara bertahap dan hati-hati agar tidak mengganggu pertumbuhan dan merusak sambungan,
  3. Pada umur 1 – 2 bulan sesudah penyambungan dipupuk dengan urea 150 – 200 gr/pohon atau sesuai rekomendasi setempat, guna merangsang pertumbuhan tunas;
  4. Setelah 3 – 6 bulan pemeliharaan rutin dilakukan yaitu pemangkasan batang utama guna memberikan sinar matahari yang cukup bagi sambungan;
  5. Setelah satu tahun batang utama dipotong dengan jarak 50 – 75 cm di atas sambungan, agar pertumbuhan sambungan tidak terhambat.
Perawatan Tunas Hasil Sambungan
Tunas muda hasil sambungan yang baru tumbuh kondisinya masih lemah, untuk itu diperlukan perawatan-perawatan sebagai berikut:
  1. Sementara untuk pertumbuhannya diperlukan penyinaran yang cukup.
  2. Membuang tunas air yang tumbuh disekitar batang.
  3. Batang atas hasil sambungan tersebut yang tumbuhnya menggantung ke bawah diusahakan agar pertumbuhan-nya mengarah ketas, misalnya diberi tali yang diikatkan ke batang bawah.
  4. Tiga bulan setelah pelaksanaan sambung samping, bagian tajuk batang bawah yang menaungi batang atas dipangkas secara bertahap (disiwing) yaitu lebih kurang setengah bagian tajuk batang bawah.
  5. Siwingan dilakukan berdasarkan kondisi batang bawah, misalnya batang bawah yang umurnya kurang dari 5 tahun, dimana kanopinya belum saling menutupi tidak perlu disiwing.
  6. Batang bawah dipotong total, apabila batang atas sudah tumbuh kuat atau sudah mulai berbuah. Arah potongan miring pada ketinggian 60 – 90 cm diatas pertautan, kemudian luka bekas potongan dioles dengan obat penutup luka atau dengan abu dapur.
Pemeliharaan Lanjutan meliputi:  (1) Pemangkasan, (2) Pemupukan dan (3) Pengendalian Hama/Penyakit perlu dilakukan agar tanaman tetap tumbuh sehat dan berproduksi tinggi.

1.  PEMANGKASAN
Tujuan pemangkasan adalah:
  1. Pemangkasan tanaman kakao dilakukan sering tetapi ringan
  2. Keadaan tanaman pada siang hari lantai kebun terliohat bercak-bercak sinar matahari tetapi gulma tidak tumbuh lebat.
  3. Suasana di dalam kebun tidak terlalu gelap dan terang.
  4. Keseragaman pertumbuhan tanaman merata dengan tanaman pinggir, sehingga hama penyakit penggerek buah dan busuk buah dapat  ditekan serendah mungkin.
  5. Bunga dan buah tumbuh merata pada batang dan cabang-cabangnya.

Ada 3 (tiga) macam pemangkasan yaitu:
  1. Pemangkasan Bentuk
  2. Pemangkasan Pemeliharaan
  3. Pemangkasan Produksi

1. Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk dilakukan untuk memperoleh kerangka cabang tanaman kakao yang baik dari fase masa muda.  Tanaman mulai umur 1 (satu) tahun, tinggi lebih kurang 50-100 cm, tanaman kakao sudah keluar cabang lebih dari 3-4 cabang jourget.

Cara Pemangkasan Bentuk:
Memotong cabang-cabang yang lemah, tinggalkan cabang yang sehat dan simetris.  Cabang-cabang yang primer yang tumbuhnya terlalu panjang dipotong ujungnya.  Pangkasan cabang tidak terlalu dekat di dasar batang utama; sebaiknya 1-1,5 cm disisakan guna menjaga pelapukan dan kontaminasi hama/penyakit.  Pemeliharaan tiga cabang jourget yang letaknya merata akan membuat pertumbuhan seimbang.
Memotong cabang-cabang sekunder yang tumbuhnya pada cabang primer sejauh 30-60 cm dari jourget dan cabang sekunder yang saling silang, sehingga kerangka tanaman menjadi seimbang.
2. Pemangkasan Pemeliharaan
Tujuannya: memelihara kerangka tanaman kakao agar tetap baik untuk memacu keluarnya bunga dan buah menjadi lebat.

Waktu Pemangkasan: setelah dilakukan pemangkasan bentuk dengan bertahap, umur lebih kurang 2-3 tahun, sudah bercabang lebat/rimbun dilanjutkan dengan pemangkasan produksi.  Pada saat tanaman sedang berbunga lebat tidak dilakukan pemangkasan.

Cara Pemangkasan Pemeliharaan:
Membuang tunas air yang tumbuh di bagian batang pokok atau tumbuh di sekitar cabang sekunder dan primer.
Memotong cabang-cabang yang tidak beraturan agar tidak saling menindih
Membuang cabang/ranting yang kering akibat cendawan atau penggerek.
Membuang cabang/ranting daun yang terlalu rimbun.
Memotong cabang terlalu panjang yang mengganggu orang untuk bekerja keluar masuk kebun.
3. Pemangkasan Produksi
Tujuannya: memacu kemampuan tanaman membentuk buah dan meningkatkan produktivitas pertumbuhan.
Waktu: Pemangkasan produksi dapat dilakukan dalam waktu tertentu, sering tetapi ringan setelah cabang kakao bersentuhan satu dengan yang lainnya, sekaligus membuang cabang/ranting yang rusak/patah dan membuang tunas-tunas air.

Cara Pemangkasan Produksi:
Gunakan alat pemotong gunting, golok, gergaji yang tajam dan bersih dari kuman guna menghindari infeksi pada tanaman bekas pangkasan.
Buang daun ranting yang terlalu rimbun yang dapat menghalangi masuknya sinar matahari.
Buang rimpang yang kurang bagus, cabang menggantung dan cabang kecil yang akan masuk ke dalam tajuk tanaman, memotong tunas baru yang membentuk jourget baru.
Buang cabang yang tidak beraturan atau saling silang/menindih.
Prinsip Dasar Pemangkasan Kakao adalah:
  1. Pemangkasan tanaman kakao dilakukan sering tetapi ringan
  2. Keadaan tanaman pada siang hari lantai kebun terliohat bercak-bercak sinar matahari tetapi gulma tidak tumbuh lebat.
  3. Suasana di dalam kebun tidak terlalu gelap dan terang.
  4. Keseragaman pertumbuhan tanaman merata dengan tanaman pinggir, sehingga hama penyakit penggerek buah dan busuk buah dapat ditekan serendah mungkin.
  5. Bunga dan buah tumbuh merata pada batang dan cabang-cabangnya.
2.  Pemupukan
Pemupukan dimaksudkan untuk menambah unsur-unsur hara tertentu di dalam tanah yang tidak mencukupi bagi kebutuhan tanaman yang dipelihara. Pemupukan dapat dilakukan dengan memperhatikan 5 tepat.
  • Tepat jenis; organik dan an organik
  • Tepat jumlah/dosis; kekurangan tidak bermanfaat, kelebihan dapat merusak
  • Tepat tempat; pupuk an organik dibenamkan pada lubang parit melingkar dengan kedalaman 5 cm dengan jarak dari batang 50 – 75 cm.
  • Tepat Cara; melalui tanah dengan cara tugal
  • Tepat Waktu; pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan.
Dosis pemupukan pada tanaman kakao
Umur Tanaman Tahun Ke
Pupuk Urea
(gr/phn)
Pupuk SP-36
(gr/phn)
Pupuk KCl
(gr/phn)

1
2
3
4
5

33
67
133
267
333

33
65
130
261
261

25
50
100
200
250

3.   Pengendalian Hama Penyakit
a. Hama Pengisap pucuk (Buah)
  • Serangan bersifat menusuk dan menghisap
  • Daun-daun muda melengkung
  • Buah muda berguguran
  • Buah penuh dengan bintik-bintik hitam, kulit retak-retak
  • Biji kakao keriput
  • Penyebab; Helopeltis sp.
  • Pengendalian: alamiah dengan semut hitam dan kimia dengan menggunakan insektisida

b. Hama Penggerek Batang atau Cabang
  • Gejala ada kotoran gerekan yang teronggok di bawah tanaman
  • Batang dan cabang berlubang
  • Penyebab; Zeuzera sp.
  • Pengendalian dengan memotong cabang/ranting yang terserang dan membunuh ulatnya; menutup lubang gerekan dengan kayu yang diberi insektisida dan dengan melakukan pemangkasan.

c. Penyakit Busuk Buah dan Kanker Batang
  • Gejala busuk buah; buah menjadi hitam keseluruhan
  • Gejala kanker batang; bercak-bercak basah berwarna tua pada kulit batang dan cabang
  • Penyebab; Phytophthora palmivora
  • Pengendalian; dengan mengurangi kelembaban kebun (pemangkasan rutin); dengan melakukan penyemprotan menggunakan fungisida.

Kesimpulan

Teknik sambung samping merupakan salah satu teknologi tepat guna pada tanaman kakao untuk memperbaiki produktifitas dan kualitas hasil tanaman.
Pemeliharaan pasca sambung samping harus benar-benar dilakukan agar pertumbuhan tanaman tumbuh dengan baik dan berproduksi secara optimal, paling tidak mendekati produksi potensial yang seharusnya dapat dicapai yakni sebesar 2 – 3 ton/ha/tahun.


Daftar Pustaka
 Abdurachman, 1979. Budidaya Coklat
  1. Arief Susanto dkk. 1985. Tinjauan Tentang Budidaya Tanaman Coklat
  2. Adi Purwanto, Dr. Manajemen Budidaya Kakao
  3. Disbun Prov. Lampung. 2004. Komoditi Unggulan Perkebunan Lampung
  4. Dirjenbun. 2004. Pedoman Pengenalan dan Pengamatan Dan Pengendalian HPT pada Tanaman Coklat
  5. Soenaryo, dkk. 2004. Budidaya dan Pengolahan Coklat
  6. Tumpal Hs, dkk. 2005. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat.




Oleh:Ir. Hasan Basri (Widyaiswara Madya)

No comments:
Write komentar